Di tengah sunyi pesisir Kalimantan Timur, di tempat yang jauh dari riuhnya kota dan perhatian dunia, berdirilah satu bangunan sederhana yang menjadi cahaya harapan bagi masyarakat sekitar. Bangunan itu bernama Mushola Al-Ma’ruf.

Namun, siapa sangka, mushola itu bukan dibangun oleh pemerintah atau hasil patungan warga. Tempat suci itu berdiri karena ketulusan satu orang—Ustadz Jauharuddin.

Bertahun-tahun berdakwah di daerah pesisir, Ustadz Jauharuddin menyaksikan kenyataan pahit: anak-anak tidak punya tempat layak untuk belajar mengaji, dan warga harus salat di rumah masing-masing karena tak ada mushola.
Melihat hal ini, beliau tidak menunggu bantuan datang, tapi menggunakan uang tabungannya sendiri—yang mestinya bisa ia gunakan untuk keluarganya—untuk membangun sebuah mushola kecil dari papan seadanya.

“Saya tidak punya banyak, tapi saya percaya Allah pasti bantu kalau niatnya ibadah.” – Ustadz Jauharuddin
Mushola Al-Ma’ruf dibangun tanpa dinding, hanya atap seadanya. Tapi dari tempat sederhana inilah:
- Anak-anak mulai mengenal huruf hijaiyah.
- Remaja pesisir mulai mencintai Qur’an.
- Ibu-ibu mulai salat berjamaah.
- Bapak-bapak mulai merapatkan barisan subuh

Tempat ini bukan sekadar mushola. Ini adalah pusat iman, pendidikan, dan harapan di pesisir.
Namun, waktu dan cuaca mulai meruntuhkan bangunan yang dulu dibangun dengan cinta dan air mata itu. Atap mulai bocor. Tiang mulai lapuk. Ketika hujan datang, anak-anak harus berhenti mengaji.

Kini, Ustadz Jauharuddin membutuhkan uluran tangan kita untuk merenovasi dan memperkuat Mushola Al-Ma’ruf, agar:
- Ada dinding dan ventilasi yang layak
- Dibangun mihrab dan shaf wanita
- Lantai yang kokoh dan bersih
- Mushola dapat digunakan siang dan malam tanpa khawatir hujan atau panas
Ustadz Jauharuddin masih berjuang. Tapi kali ini, beliau tak harus berjuang sendirian. Mari kita hadir dan buktikan bahwa #KitaBisa jadi bagian dari pembangunan rumah Allah di ujung timur negeri ini.

Yuk, bantu Mushola Al-Ma’ruf berdiri lebih kokoh