Bumi Sedang Tidak Baik-Baik Saja. Lalu, di Mana Posisi Kita?
Sejak 2001 hingga 2025, Indonesia telah kehilangan sekitar 33 juta hektare tutupan pohon setara 21% dari yang kita miliki di tahun 2000. Bahkan di tahun 2025 saja, laporan Status Deforestasi Indonesia (STADI 2025) mencatat kehilangan hutan melonjak hingga 433.751 hektare, naik 66% dibanding tahun sebelumnya. Kalimantan, Sumatra, dan Papua menjadi wilayah dengan kehilangan hutan terbesar.

Angka-angka itu bukan sekadar statistik di layar. Ia berarti makin sedikit paru-paru bumi yang tersisa untuk anak cucu kita, makin besar risiko banjir dan longsor di kampung-kampung kita, seperti yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat akhir tahun lalu, saat ratusan ribu hektare lahan kritis muncul akibat rusaknya daerah aliran sungai.
Islam tidak pernah memandang alam hanya sebagai sumber daya untuk dieksploitasi. Manusia diangkat sebagai khalifah fil ardh bukan untuk merusak, melainkan memakmurkan dan merawatnya.
“Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu sebagai pemakmurnya.” (QS. Hud: 61)
Namun saat kita melihat berita tentang apa yang terjadi pada bumi, kita menyaksikan sebuah paradoks: hutan terus berkurang, emisi karbon terus meningkat, dan pembangunan kerap mengabaikan daya dukung lingkungan.
Lalu pertanyaannya, masih layakkah kita menyebut diri sebagai khalifah, jika bumi yang Allah titipkan justru semakin rusak oleh tangan manusia sendiri?
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia…” (QS. Ar-Rum: 41)

FKMM FISIP Undip hadir melalui program JAWARA (Jaga Warisan Alam) sebagai langkah nyata untuk menjawab tantangan tersebut. Kami memilih bertindak daripada sekadar berlagak. Lewat gerakan penanaman pohon ini, kami mengajak Anda untuk menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar penonton di tengah laju kerusakan lingkungan.
Setiap donasi yang kamu berikan = satu bibit pohon yang tertanam.
Setiap bibit yang tumbuh = satu langkah nyata memakmurkan bumi, bukan merusaknya
Setiap langkah kecil ini = ikhtiar kita bersama menjawab amanah sebagai khalifah fil ardh

Where Nature Meets Reflection
“Every step reveals a lesson, every journey shapes a better self.”
Where Nature Meets Reflection menggambarkan pertemuan antara manusia dan alam sebagai ruang untuk belajar, merenung, dan bertanggung jawab. Melalui setiap langkah dalam kegiatan JAWARA, peserta tidak hanya diajak melihat kondisi lingkungan, tetapi juga merefleksikan perannya sebagai khalifah fil ardh yang berkewajiban menjaga dan memakmurkan bumi. Dengan demikian, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa menjaga alam bukan sekadar aksi sesaat, melainkan wujud kepedulian, amanah, dan tanggung jawab bersama terhadap masa depan.
Ayat tentang kerusakan di darat dan di laut itu sudah turun ribuan tahun lalu. Sekarang giliran kita membuktikan bahwa tangan manusia juga bisa menanam, merawat, dan memulihkannya. mari bersama jaga bumi, jaga masa depan dengan ikut berdonasi dan menyebarkan informasi ini seluas-luasnya.
| Tanggal | Donatur | Nominal |
|---|---|---|
| Total donasi offline | 0,- | |
Ayo ikut berkontribusi dalam gerakan #solusipeduli! Ajak lebih banyak orang untuk mewujudkan program kebaikan ini.
Jadi Fundraiser
Semoga bertambah keberkahan kebarokahan dan kemanfaatan amal jariyah
Semangat dan lancar!