Bertaruh Nyawa Demi Cita-Cita: Kisah Anak-Anak Waekuse Menyeberangi Jembatan Rapuh Setiap hari Menuju Kesekolah
24 Juli 2026 -Banyak orang mengenal Flores karena pemandangan alamnya yang indah. Perbukitan hijau, laut yang jernih, dan budaya yang kaya menarik wisatawan dari berbagai daerah untuk datang berkunjung. Namun, ada sisi lain Flores yang mungkin belum banyak diketahui.
Di beberapa wilayah, perjalanan menuju sekolah masih menjadi tantangan. Anak-anak harus melewati akses yang terbatas agar bisa sampai ke ruang kelas. Kondisi ini menjadi bagian dari tantangan pendidikan di Nusa Tenggara Timur (NTT). Data Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) NTT mencatat 145.268 Anak Tidak Sekolah (ATS) yang tersebar di 22 kabupaten dan kota. Angka tersebut menunjukkan bahwa masih banyak anak menghadapi hambatan untuk memperoleh pendidikan.
Jembatan Rapuh, Jalan Menuju Sekolah
Di Wae Kuse, Desa Siru, Kecamatan Lembor, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, sebuah jembatan kayu menjadi satu-satunya jalan menuju sekolah. Setiap pagi anak-anak melangkah di atas jembatan itu untuk memulai hari belajar. Saat musim hujan datang dan debit sungai meningkat, mereka harus lebih berhati-hati agar dapat menyeberang dengan aman. Meski menghadapi kondisi tersebut, mereka tetap berangkat karena sekolah menjadi tempat untuk belajar, bermain, dan menyiapkan masa depan.

Para guru juga menempuh perjalanan yang sama setiap hari. Mereka tetap datang ke sekolah agar proses belajar terus berjalan. Di tengah keterbatasan fasilitas, mereka terus mendampingi anak-anak agar tetap memiliki kesempatan untuk berkembang.
Cerita dari Wae Kuse mengingatkan kita bahwa pendidikan tidak hanya membutuhkan ruang kelas dan tenaga pendidik. Jalan yang aman menuju sekolah juga membantu anak-anak belajar dengan tenang sekaligus memudahkan guru menjalankan kegiatan belajar mengajar.
Membuka Akses Bersama
Setiap anak seharusnya dapat berangkat ke sekolah tanpa harus mengkhawatirkan perjalanan yang mereka tempuh. Untuk mewujudkannya, kita membutuhkan dukungan dari banyak pihak. Ketika masyarakat, komunitas, dan mitra saling mendukung, semakin banyak anak bisa menikmati akses yang lebih aman menuju sekolah.
Kolaborasi juga membuka lebih banyak kesempatan. Langkah sederhana yang kita lakukan bersama dapat membantu masyarakat di berbagai pelosok memperoleh akses pendidikan yang lebih baik.

Human Initiative terus membuka ruang kolaborasi agar semakin banyak masyarakat merasakan manfaat dari akses pendidikan yang lebih baik. Bersama para Sahabat Inisiator dan berbagai mitra, Human Initiative memperluas manfaat sehingga lebih banyak anak, keluarga, dan masyarakat di pelosok memperoleh kesempatan untuk terus belajar.
Mari menjadi bagian dari kolaborasi kebaikan bersama Human Initiative. Kunjungi solusipeduli.org dan bersama-sama membuka lebih banyak akses pendidikan bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia. Setiap langkah kebaikan yang kita lakukan bersama dapat memperluas manfaat dan membuka lebih banyak kesempatan untuk terus belajar.