Marhaban Ya Ramadhan… Tak terasa bulan Ramadhan datang untuk kesekian kalinya dalam hidup seorang. Menyempurnakan kembali siklus satu tahun perjumpaan dengannya di waktu lalu. Ada yang tahun lalu mereguk indahnya bulan penuh berkah ini, mungkin tahun ini tidak. Lantaran telah dipanggil oleh Sang pemilik waktu. Datangnya Ramadhan hendaknya disambut dengan penuh kegembiraan, dengan harapan hadirnya akan melahirkan kelembutan, kedamaian, dan ketentraman. Rasanya, belum terlalu lama ia menyapa. Melakukan aktifitas ibadah di dalamnya, mudik lebaran dan sebagainya.

Sejatinya Ramadhan hanya sebuah instrument yang Allah berikan kepada manusia untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Harapan besarnya adalah agar setiap insan beriman akan merasakan manfaat. Manfaat untuk keduniaan maupun akhirat. Sebulan penuh jiwa dilatih dan ditempah. Karena urusan puasa ini bukan sekadar menahan haus dan laparnya fisik, akan tetapi ia adalah latihan jiwa. Menempahnya menjadi lebih peka dalam kebaikan, menjadi jiwa-jiwa yang selalu belajar untuk mau berbagi. Berbagi dalam segala pemaknaan yang dibingkai oleh kebaikan.

“Mereka yang memberikan infaq pada kondisi lapang (bekerkecukupan) maupun dalam kondisi kesempitan, mereka dapat menahan marah, dan memaafkan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik, dan mereka jika melakukan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, segera sadar mengingat Allah dan memohon ampunan atas segala dosanya.” (Q.S Ali Imron : 134)

Ayat tersebut adalah bentuk penempahan jiwa, yang berhasil lolos dalam madrasah Ramadhan. Jiwa-jiwa yang mau ‘dipaksa’ berbagi dengan segala pemaknaannya. Dari berbagi harta, senyum, dan berbagi kebahagiaan. Yang diejawantahkan dalam empat hal.

Pertama, Jiwa yang gemar berinfaq dalam setiap kondisinya, karena apalah artinya berpuasa, namun masih acuh dengan lingkungan sekitar. Dan madrasah Ramadhan adalah momen bagi setiap manusia untuk berbagi sebagian hartanya, mengikis kecintaan yang berlebih terhadap terhadap harta titipan. Infaq atau sedekah secara kasat mata kelihatannya mengurangi harta, sejatinya tidak demikian. Karena harta yang disedekahkan akan mendatangkan balasan yang berlipat ganda. Limpahan besarnya adalah keinginan kita untuk menjaga diri dari api neraka yang menyala-nyala. Tengoklah bagaimana Rasulullah di dalam penggalan khutbah menyambut Ramadhan. Beliau berkata “Jagalah dirimu dari api neraka walaupun dengan hanya sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walaupun dengan seteguk air.” Artinya bahwa pemberian kecil di bulan itu akan bernilai besar di hadapan Allah SWT, walau hanya dengan memberikan sebiji kurma atau seteguk air bagi orang yang berpuasa. Luar biasa!

Kedua, Jiwa yang mampu menahan amarah. Momen Ramadhan adalah saat yang tepat untuk mengungkung emosi yang cenderung cepat tersulut, oleh masalah-masalah sepele. Apalagi dengan kondisi masyarakat yang berkarakter tempramen. Berbeda warna baju, berbeda cara tasyahud, berbeda cara berpakaian muslim hendaknya tidak menjadikan urat leher merentang, atau emosi menggelegak. Karena begitulah hakekat berpuasa, menahan gejolak nafsu.

Ketiga, Jiwa yang memaafkan. Ramadhan dapat menempa jiwa agar tidak menjadi pendendam, sehingga menjadikan hidup menjadi sehat dan ringan karena tidak memiliki beban apa-apa. Keempat, Jiwa yang selalu berharap ampunan. Manusia yang ditempa di dalam madrasah Ramadhan akan merasa rugi bila berakhirnya Ramadhan tidak mendapatkan ampunan dari Allah SWT. Naudzubillah!, maka meningkatkan amal menjadi semacam keharusan.

Para Sahabat dan salafussholeh, jauh-jauh hari telah menyiapkan diri menuju Ramadhan. Enam bulan mereka lakukan untuk persiapan agar bisa merasakan indahnya mereguk Ramadhan, juga untuk bisa berbagi dengan orang lain. Dari persiapan fisik, dengan amal-amal unggulan dan latihan dengan berbekal makanan fisik yanghalal dan thoyib. Hingga bekal harta, sebagai pundi-pundi amal untuk menjalani bulan penuh berkah. Enam bulan berikutnya digunakan untuk terus berharap dan berdo’a agar apa yang telah dilakukan di jenak-jenak Ramadhan diterima di sisi Allah SWT.

Fragmen-fragmen jiwa yang mau berbagi harta, senyum dan kebahagiaan melalui realisasi amal-amal yang telah disebutkan di atas, adalah keniscayaan fitrah diri manusia. Tidak sulit, jika mau belajar. Berbagi bukan masalah fisik atau banyaknya harta, namun ia masalah mental, masalah jiwa. Sesulit apapun medan amal, jika jiwa telah tertempa maka akan mudah untuk mendaki tangga-tangga amal. Sebaliknyapun begitu. Wallahualam bisshowab.

Klik disini untuk Berbagi