Perjalanan Yasmin Napper ke Pedalaman NTT Ungkap Potret Sekolah yang Bertahan Tanpa Listrik dan Fasilitas Minim - SolusiPeduli.org

Perjalanan Yasmin Napper ke Pedalaman NTT Ungkap Potret Sekolah yang Bertahan Tanpa Listrik dan Fasilitas Minim

31 Juli 2026 - Oleh Abhi Setyaka

Dikenal sebagai aktris, model, dan penyanyi muda Indonesia, Yasmin Napper tidak hanya aktif berkarya di dunia hiburan, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap berbagai kegiatan sosial. Bersama Human Initiative, Yasmin mengunjungi Desa Siru, Kecamatan Lembor, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia bertemu masyarakat, menyapa anak-anak di MI Nurul Huda Siru, dan melihat langsung keseharian mereka dalam mengakses pendidikan.

Yasmin memulai perjalanan dari Labuan Bajo. Ia menempuh perjalanan darat selama sekitar tiga jam, lalu melanjutkan perjalanan menggunakan motor trail selama kurang lebih 45 menit. Sebelum tiba di Desa Siru, Yasmin juga mengunjungi Pondok Pesantren Kolong untuk berbincang bersama para santri.

Tokoh adat, kepala desa, guru, dan masyarakat menyambut Yasmin bersama tim Human Initiative di Kampung Copa. Mereka mengalungkan kain tenun khas NTT dan menampilkan tarian tradisional yang dibawakan siswa MI Nurul Huda Siru.

Desa Siru mencakup Kampung Copa dengan 58 kepala keluarga atau 194 jiwa dan Kampung Siru Beo dengan 47 kepala keluarga atau 127 jiwa. Sebagian besar warga bekerja sebagai petani dan pekebun. Rata-rata penghasilan mereka sekitar Rp1 juta per bulan. Hingga kini, sudah lebih dari 10 tahun kedua kampung tersebut juga belum menikmati aliran listrik.

Kunjungan ke MI Nurul Huda Siru

MI Nurul Huda Siru menjadi satu-satunya sekolah dasar bagi anak-anak Kampung Copa dan Kampung Siru Beo. Sebelum madrasah ini berdiri, mereka harus berjalan kaki sekitar 5 hingga 6 kilometer melewati hutan menuju sekolah di Kampung Boleng. Kini jarak tempuh lebih dekat. Namun, anak-anak masih harus melewati jalan menanjak setiap hari.

“Tadi naik ke sekolahnya kita nanjak. Aku aja sampai enggak bisa napas. Luar biasa banget buat mereka yang setiap hari berangkat ke sekolah. Semangat mereka luar biasa,” ujar Yasmin Napper.

Sebanyak 32 siswa belajar di MI Nurul Huda Siru. Sekolah ini memiliki 4 ruang permanen. Satu ruangan berfungsi sebagai ruang guru. Tiga ruangan lainnya disekat menjadi 6 ruang kelas agar seluruh siswa kelas 1 hingga kelas 6 dapat belajar.

Sekolah juga masih menghadapi keterbatasan fasilitas. Madrasah belum memiliki perpustakaan. Sekolah hanya memiliki 1 unit laptop dan belum memiliki printer maupun alat peraga pembelajaran. Beberapa ruang kelas mengalami kerusakan pada lantai, jendela, sekat, dan atap. Bantuan internet pun belum dapat dimanfaatkan karena listrik tenaga surya sekolah sudah tidak berfungsi.

Sebanyak 7 guru honorer mendampingi proses belajar mengajar. Selain mengajar, mereka juga bekerja sebagai petani dan pekebun untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Dukungan untuk Pendidikan

Yasmin Napper bersama Human Initiative menyerahkan school kit kepada seluruh siswa MI Nurul Huda Siru. Bantuan tersebut mendukung kebutuhan belajar anak-anak di sekolah.

Salah seorang siswa menyampaikan rasa senangnya atas kunjungan tersebut. “Terima kasih Kak Yasmin udah datang ke sekolah kami. Dan terima kasih Human Initiative udah kasih kami tas dan peralatan sekolah. Terima kasih banyak.”

Yasmin juga berbincang dengan para guru mengenai keseharian mereka. “Teman-teman di sini enggak cukup hidup sehari-hari hanya dengan mengajar karena gajinya cuma sekitar Rp200 ribu per bulan. Mereka butuh dibarengi sama bertani. Bersama-sama kita harus mensejahterakan guru-gurunya, murid-muridnya, supaya mereka mendapatkan fasilitas yang layak untuk belajar,” ujar Yasmin.

Human Initiative terus berupaya memperluas akses pendidikan melalui kolaborasi bersama masyarakat, komunitas, perusahaan, dan berbagai mitra. Mari menjadi bagian dari kolaborasi kebaikan bersama Human Initiative melalui solusipeduli.org. Bersama, kita dapat membuka lebih banyak kesempatan belajar bagi anak-anak Indonesia.

Baca Cerita Lainnya

Bagikan :